Menyulap Singkong Menjadi Subtitusi Terigu
Normal 0 false false false EN-US X-NONE X-NONE MicrosoftInternetExplorer4 /* Style Definitions */ table.MsoNormalTable {mso-style-name:"Table Normal"; mso-tstyle-rowband-size:0; mso-tstyle-colband-size:0; mso-style-noshow:yes; mso-style-priority:99; mso-style-qformat:yes; mso-style-parent:""; mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt; mso-para-margin-top:0in; mso-para-margin-right:0in; mso-para-margin-bottom:10.0pt; mso-para-margin-left:0in; line-height:115%; mso-pagination:widow-orphan; font-size:11.0pt; font-family:"Calibri","sans-serif"; mso-ascii-font-family:Calibri; mso-ascii-theme-font:minor-latin; mso-fareast-font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-theme-font:minor-fareast; mso-hansi-font-family:Calibri; mso-hansi-theme-font:minor-latin;}
Salah satu tantangan terbesar pembangunan di setiap negara adalah meningkatnya jumlah penduduk dan meningkatnya kebutuhan akan pangan. Pada tahun 2035, jumlah penduduk Indonesia diperkirakan akan bertambah menjadi dua kali lipat dari jumlah sekarang, menjadi kurang lebih 400 juta jiwa. Akibatnya dalam waktu 35 tahun mendatang Indonesia memerlukan tambahan persediaan pangan lebih dari dua kali persediaan saat ini (Husodo, 2001).
Di pihak lain, seiring dengan berkembangnya teknologi di bidang pangan, budaya, dan sosial, terjadi perubahan food habit (kebiasaan makan) orang Indonesia. Kebutuhan akan pangan tidak lagi berpusat pada makanan pokok rakyat Indonesia yaitu nasi. Pergeseran pola makan dan gaya hidup modern yang serba praktis serta keterbatasan waktu yang dialokasikan untuk menyiapkan makanan sehari-hari, turut memacu berkembangnya makanan jadi. Kemajuan teknologi pengolahan pangan yang didukung dengan ketersediaan peralatan modern telah mendorong berkembangnya industri makanan (Kuntowijoyo, 1991).
Masyarakat cenderung tertarik pada produk pangan yang praktis dalam penyajiaannya, dan terkesan lebih modern, seperti produk mie, roti, makanan ringan, baby foods dan sebagainya. Perubahan pola konsumsi makanan (food habit) ini menyebabkan kebutuhan akan bahan pangan berbasis tepung-tepungan meningkat pesat, salah satunya yang paling besar konsumsinya adalah tepung terigu.
Permasalahannya, sebagian besar bahan baku untuk tepung terigu, yaitu gandum justru tidak bisa dikembangkan dalam skala ekonomis di Indonesia, sehingga harus diimpor. Selama 2 (dua) tahun terakhir terjadi peningkatan tajam harga gandum di pasar impor. Akibatnya harga tepung di dalam negeri juga ikut bergejolak. Banyak industri pengolahan makanan, baik yang berskala kecil maupun besar yang gulung tikar menghadapi situasi ini.
Berbagai upaya dilakukan untuk mencari sumber dan teknologi alternatif untuk bahan baku terigu dari dalam negeri. Salah satu bahan yang bisa dipakai sebagai alternatif gandum sebagai bahan baku terigu adalah ubi kayu yang diolah secara khusus melalui teknologi. Bahan tersebut dinamakan dengan Modified Cassava Flour (MOCAL). Karena itu, muncul peluang yang sangat besar untuk mengembangkan budidaya ubi kayu sekaligus fasilitas pengolahan tepung MOCAL, sehingga kebutuhan bahan baku yang selama ini menggunakan terigu dapat dipasok dari dalam negeri dengan menggunakan Tepung MOCAL.
Agar upaya pengembangan ini mencapai hasil yang maksimal, maka perlu dirancang sebuah skema yang melibatkan antara pembudidaya, unit pengolah tepung, dan peranan lembaga pembiayaan. Sehingga, didapat sebuah bentuk kerjasama kemitraan dengan tata niaga yang saling menguntungkan bagi para pihak yang terlibat, yaitu petani, unit pengolahan dan lembaga pembiayaan.
PeacBromo sebagai salah satu Business Development Services (BDS) sejak tahun 2008 turut aktif menfasilitasi percepatan pengembangan tepung Mocal di Kabupaten Trenggalek. Diantarannya melalui peran intermediasi ke lembaga keuangan non perbankan yakni PNM maupun dukungan promosi hingga Tepung Mocal cukup dikenal dan mendapatkan perhatian masyarakat.









